MUSEUM SENDANG MAS

MUSEUM SENDANG MAS

Kabupaten Banyumas memiliki beberapa Museum termasuk Museum Wayang Sendang Mas. Terletak di Jalan Kawedanan nomor 1 Banyumas, pada tanggal 31 Desember 1983 Museum Sendang Mas diresmikan oleh Ketua Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi).

Tahun 1984 dikelola oleh Kepala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas. Pada tanggal 20 Mei 1985 pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Seni Budaya Sendang Mas. Mulai tanggal 31 Juli 1989 museum ini dikelola sebagai asset wisata budaya di Kabupaten Banyumas oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas.

Ada dua versi nama Sendang Mas. Yang pertama merupakan kependekan dari Seni Pedalangan Banyumas untuk memberi nama gagrag Banyumasan yang berbeda dengan gagrag Ngayogyakarta maupun Surakarta. Kekhasan gagrag Banyumasan terletak pada adanya tokoh Bawor yang pada gagrag Ngayogyakarta maupun Surakarta disebut sebagai Bagong. Gending yang ditampilkan pada gagrag Banyumasan adalah gending kembangglepang dan gending-gending Banyumasan lainnnya, sedangkan pada gagrag Ngayogyakarta maupun Surakarta dipakai gagrag Ngayogyakarta maupun Surakarta gending Sulukan, pangkur, dan sebagainya.

Versi kedua menyebutkan nama Museum Sendang Mas berasal dari nama sumur kecil di belakang pendopo Si Panji yang sampai sekarang masih mengeluarkan air. Diameter sumur 0,5 meter dengan kedalaman kurang lebih 2 meter. Air sumur ini digunakan untuk air kembang yang biasanya untuk ziarah ke makam-makam para Bupati Banyumas zaman dahulu. Ada juga yang percaya bahwa air sumur Sendang Mas mempunyai khasiat tertentu sebagai sarana pengobatan supranatural dan metafisika.

Bekas bangunan Ibukota Kabupaten Banyumas yang disebut bangunan Si Panji oleh penduduk setempat masih dikeramatkan karena telah memberi keselamatan kepada penduduk ketika bangunan kabupaten Banyumas ini masih berdiri. Pada tahun 1981 Banyumas pernah dilanda banjir besar dari sungai Serayu dan untuk menyelamat diri penduduk mengungsi di pendopo Kabupaten.

Bangunan pendopo Si Panji sekarang tinggal duplikat saja karena ketika Bupati Banyumas dijabat oleh Raden Sujiman Martodirjo Gondo Subroto (1933-1950) dipindahkan ke Purwokerto. Prosesi pemindahan tersebut cukup unik karena adanya pantangan tidak boleh menyeberangi Sungai Serayu sehingga pelaksanaan pemindahan pendopo dilakukan melalui Semarang.

Koleksi yang ada di museum ini antara lain gamelan laras Slendro, wayang gagrag Banyumas, wayang gagrag Yogya, wayang Krucil, wayang Prajuritan, wayang Kidang Kencana, wayang Golek Purwa, wayang Golek Menak. Tokoh Bawor dalam wayang gagrag Banyumasan. Dalam wayang gagrag Ngayogyakarta dan Surakarta disebut sebagai Bagong.